Deorientasi

Sembari menutup kegiatan SabangMerauke setelah dua minggu, akhirnya perjalanan panjang tiba di hari deorientasi pada hari Sabtu, 22 Agustus 2015 lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk memahami dan menuangkan pelajaran apa yang telah didapat oleh seluruh pihak yang ikut membantu menjalankan program SabangMerauke.

Pagi itu pukul 09.00 dan dari kejauhan terlihat ASM serta FSM nya datang membawa serta barang-barang. Hari itu seluruh ASM akan menginap di Wisma Sanita agar proses kepulangan esok hari  menjadi lebih lancar. Saya yang hari itu juga datang melihat rona kebahagiaan di setiap garis muka. Tertulis dalam wajah masing-masing setiap cerita yang telah ditorehkan selama kurang lebih dua minggu.

Tepat pukul 09.40 ‘hari deorientasi’ dimulai. Seperti biasanya, kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk mengawali kegiatan. Setelah menutupnya dengan bait ‘hiduplah indonesia raya…’, kami melakukan games agar membuat setiap orang lebih semangat. Permainan dipandu oleh Kak Putri selaku Managing Director SabangMerauke. Tak ada tubuh yang tak bergerak saat itu, semuanya bersemangat!

Setelah menggerakkan badan karena permainan yang cukup melelahkan, kami sampai ke sesi selanjutnya, yaitu mengingat kembali perjalanan selama program SabangMerauke. Sesi ini dibagi menjadi 4 kelompok dimana satu kelompok terdiri dari seluruh ASM, seluruh KSM, seluruh FSM, dan seluruh relawan. Pada sesi ini, setiap kelompok diharuskan mencatat atau menggambar dalam satu karton besar mengenai pelajaran apa yang mereka dapatkan selama dua minggu. Hasil yang digambarkan dan dituliskan kemudian ditempelkan lalu seluruh peserta dipersilahkan melakukan philosophical walk, yakni berjalan mengamati tempelan-tempelan hasil gambaran atau tulisan dari setiap kelompok.

Menjadi salah satu dari philosophical walker, perhatian saya sungguh tertarik melihat para FSM menggambar bagaimana dari awal ASM datang ke rumah, bagaimana mereka melakukan hari keluarga; ada yang mengajak ASM nya ke Dunia Fantasi Ancol, ada yang mengajak ASM nya ke Bosscha, ada pula yang melakukan piknik bersama. Kertas dari pembelajaran KSM juga beragam, salah satunya ada yang menggambarkan konsep jendela johari, bagaimana konsep diri kita ketika berhadapan dengan orang lain. Begitu pun ASM, ada yang menuliskan ‘belajar mengenal agama lain’, ‘belajar mencintai sejarah’, dan lain-lain. Relawan pun tak ketinggalan, seperti ASM, KSM, dan FSM, mereka juga menggambarkan banyak hal terkait pelajaran yang didapatkan selama dua minggu.

Kak Putri kemudian menanyakan perasaan apa yang mereka dapatkan selama program.

“ternyata yang dipelajari itu banyaaaak sekali, juga menambah wawasan”, sahut Aan, ASM asal Banggai.

“saya merasakan cinta dari semua keluarga, kakak, maupun panitia dari SabangMerauke”, timpal Ridho, ASM asal Nusa Tenggara Barat.

Sesi dilanjutkan dengan kaizen yang dipimpin oleh Kak Meiske. Kaizen yang dalam bahasa Indonesia berarti perbaikan berkesinambungan ini adalah tradisi yang telah dilakukan SabangMerauke selama tiga tahun kegiatan ini ada. Kaizen yang berasal dari Jepang ini merupakan salah satu sesi dimana kita akan melihat sisi positif yang harus dipertahankan dan sisi perbaikan apa yang harus dilakukan dalam sebuah program. Sesi kaizen kali ini dibagi ke dalam empat kelompok yaitu ASM, KSM, FSM, dan Saudara SabangMerauke (SSM). Di dalam kelompok, mereka diminta menuliskan hal-hal apa yang sudah baik dan hal-hal apa yang harus ditingkatkan.

Setiap kelompok terlihat antusias sekali ketika menuliskan hal-hal positif apa yang harus dipertahankan maupun yang harus ditingkatkan. Seperti di bagian ASM hal positif tertulis ‘makanannya enak-enak’, atau di bagian FSM: program sudah terstruktur dengan baik, dan KSM: setiap KSM sudah bisa saling membackup satu sama lain. Namun ada yang begitu menarik atensi ketika melihat tulisan positif dalam kelompok SSM, seperti “ada Vina saya jadi lebih bersyukur”, atau “ada Yoga rumah lebih terasa ceria”. Sepertinya kehadiran ASM membawa cerita baru bagi para SSM. Begitu pula dengan hal-hal yang harus ditingkatkan, ada yang menulis bahwa waktu dengan keluarga kurang, jadwal setiap harinya harus dikurangi, maupun perbaikan tagline. Tetapi ada yang sama dari setiap kelompok, yakni  tertulis “waktunya kurang panjang”. Rupanya, dua minggu terasa sungguh singkat untuk kegiatan positif ini, ya?

Sesi kaizen ini pun ditutup dengan kesimpulan bahwa dua hal yang banyak ditekankan dalam setiap kelompok adalah soal waktu dan komunikasi.

One o one adalah apa yang kami lakukan setelahnya. Dalam sesi ini ASM dan KSM diminta mengambil jurnal masing-masing.  Sesi ini adalah sesi melihat ke depan. Lalu sehabis ini mau melakukan apa? Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menghidupkan nilai SabangMerauke dalam kegiatan sehari-hari. Pada bagian ini, FSM bertemu KSM dan ASM bertemu dengan pengurus. Antara FSM dan KSM membahas bagaimana kelanjutan setelah kepulangan ASM maupun bagaimana komitmen dalam mempertahankan hubungan tersebut.

Seusai melakukan sesi one o one, kemudian ASM berkumpul dengan KSM, FSM, dan penggerak. Apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan? Keempat elemen ini akan berusaha menjawab pertanyaan tersebut lantas ASM memberikan sesuatu untuk keluarganya, dan KSM memberikan sesuatu untuk ASM nya. Pada bagian ini saya melihat sesuatu yang haru; ASM memberikan sesuatu sambil mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan kakak yang selama dua minggu ini sudah menjadikannya keluarga. Tak jarang air mata menetes dari mata beberapa orang, mereka terlihat sedih dan bahagia sekaligus karena kedatangan ASM. Sedih karena harus melepas mereka ke daerah masing-masing namun bahagia karena dua minggu sudah terlewati dengan begitu banyak pelajaran baru.

Ternyata sesi haru tak berhenti sampai disitu, kemudian kami melakukan hening untuk meresapi apa yang selama ini dirasakan. Pada hening ini seluruh keluarga besar SM berada dalam satu lingkaran. Diiringi lagu syukur, mereka memegang lilin dan menyalakannya sebagai doa semoga nilai SM terus menyala. Saya melihat air mata masih terus jatuh dari ASM, KSM, maupun FSM yang mencoba membayangkan apa yang selama dua minggu ini sudah mereka lakukan. Mereka memeluk ASM masing-masing sembari menyampaikan beberapa hal.

Dari sudut saya memperhatikan setiap keluarga; ada tawa dalam tangisnya, ada tulus dalam ucapnya, ada kasih dalam perbuatannya. Dalam dua minggu ini ada 15 keluarga baru yang telah tercipta. Saya berdoa semoga kehangatan ini akan tetap ada dan nilai-nilai SabangMerauke tetap menggema.

Sungguh, dua minggu hanya terasa seperti dua jam saja dan hari deorientasi pun selesai sudah. Kami menutupnya dengan senyum karena kami sadar ini bukanlah akhir, namun awal. Awal untuk ASM, KSM, FSM, maupun relawan untuk terus menyebarkan nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan di daerahnya masing-masing. Lalu saya teringat dengan yang Mas Victor ucapkan; kita ada bukan untuk selewat saja, namun untuk berarti bagi sesama.

Oleh : Chenia

Menjaga Bumiku

Hari terakhir kegiatan SabangMerauke, ASM belajar untuk mengenali dan mencintai lingkungan sekitar dalam tema “Menjaga Bumiku”.  Hari ini, 18 Agustus 2015, ASM berkunjung ke komunitas Earth Bank dilanjutkan menerima materi di Principia Manajemen.

Kegiatan pertama, kunjungan ke komunitas Earth Bank. Bukan hanya belajar mengenali, ASM juga belajar untuk lebih menghargai dan mencintai bumi lewat sampah. Bagaimana ya benda yang biasa kita anggap tidak berguna bisa membuat bumi menjadi lebih berharga? Contoh sederhana  adalah botol plastik. Ibu Ai, salah satu FSM batch 2 yang juga tergabung dalam komunitas Earth Bank memutarkan video perjalanan botol plastik. Ternyata salah satu bahan pembuat botol plastik adalah gas bumi loh! Dan ketika botol plastik terkena air hujan, botol tersebut akan mengeluarkan racun yang merusak bumi. Kita tidak mau kan bumi tempat kita menjalani kehidupan ini lama – kelamaan berbahaya bagi kita?

earthbank

Maka komunitas Earth Bank berinisiatif untuk menjaga keindahan bumi dengan memilah sampah. Ada yang tau apa saja jenis sampah? “Sampah Organik dan Anorganik!” jawab ASM dengan penuh semangat. Benar! Kalau di komunitas ini, agar bisa dijual sampah ini dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil seperti kaca, kertas berwarna sampai kepingan CD. Untuk sampah norganik, komunitas Earth Bank bekerja sama dengan Baraya Trash untuk mengubah sampah menjadi pupuk. Diambil botolnya, dibuka plastik labelnya, diremas! Sekrang ASM sudah mengerti cara memilah sampah dengan baik.  Mudah kan menjaga bumi ini, asal mau mencoba pasti kita bisa terbiasa. Yuk mulai memilah sampah agar bumi menjadi lebih indah.

Masih mengenai mencintai dan menghargai lingkungan, selanjutnya ASM akan belajar mendaurulang sampah bersama komunitas Aksi Daur Ulang (Si Dolang). Si Dolang merupakan komunitas yang membantu menyadarkan & menggerakkan masyarakat dalam mendaurulang sampah. “Make it simple!” salah satu motto yang diajarkan Si Dolang. Apapun yang ada disekitar kita, yang sering kita anggap tidak berharga, dapat diubah kembali menjadi barang yang berguna. Kali ini Si Dolang akan mengajak ASM mengubah sampah botol plastik menjadi dua macam pot bunga. Pot bunga yang bisa mengairi diri sendiri dan pot yang harus kita rawat dengan menyiram air setiap hari.

Banyak sekali loh kreasi yang telah dihasilkan Si Dolang. Contohnya adalah baju yang sudah tidak dipakai. Baju tersebut kemudian diubah menjadi tas tangan cantik. Mengubah barang yang kita anggap tidak berharga menjadi barang baru yang lebih berguna biasa disebut upcycling. Setelah mengetahui upcycling ini, diharapkan ASM lebih peduli dengan apa yang mereka akan jadikan sampah.

Tidak hanya belajar  mencintai bumi secara keseluruhan, ASM juga belajar peka terhadap lingkungan sekitar di Principia Manajemen. Tugas utama PT. Prinsipia membantu memberikan uang untuk mengubah masalah menjadi peluang. Acara dibuka oleh sambutan kak Dillah, dalam sambutannya Kak Dillah menyampaikan pentingnya komunikasi untuk menjalin relasi dan juga pentingnya membaca buku untuk membuka ilmu, karena buku dapat membawa kita kemana saja. “Siapa yang suka baca buku?” tanya Kak Dillah. Semua ASM mengacungkan tangan mereka. Ternyata PT. Principia memberikan voucher berbelanja buku kepada seluruh ASM, wah senang!

Kemudian ASM dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta untuk mencari isu terkini yang mereka anggap sebagai sebuah masalah. “Pentingnya toilet umum yang bersih” seru Aan, ASM asal sulawesi tengah ketika mempresentasikan masalah yang mereka temukan. Setelah mengetahui masalahnya, setiap kelompok diminta untuk mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mulai dari pembuatan peraturan yang lebih tegas sampai meningkatkan kualitas transportasi umum adalah solusi yang ASM utarakan demi menyelesaikan masalah.

Pesan terakhir, “Mencari keuntungan bukanlah hal yang salah. Carilah keuntungan dengan cara yang baik untuk kepentingan bersama. Terima kasih telah mengajarkan untuk tidak hanya peduli dengan lingkungan sekitar tetapi juga mengajarkan untuk berpikir mengenai apa yang kita bisa lakukan untuk melakukan perubahan. Semoga di kemudian hari ASM dapat menjadi duta perubahan bagi daerah masing – masing dan mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

principia2

Oleh : Anisa

Belajar Hidup Sehat bersama Combiphar  

Hari ini para Anak SabangMerauke berkumpul jam 6.30 pagi di Office 8, Senopati. Ada yang semangat, ada yang sedang sarapan, ada yang masih mengantuk karena mereka berangkat dari rumah sejak dini hari supaya bisa berkumpul bersama pagi ini. Hari ini kami akan mengunjungi pabrik Combiphar di Padalarang, Jawa Barat. Combiphar adalah perusahaan obat terkemuka di Indonesia. Mereka berdiri pada tahun 1971 di Bandung, Jawa Barat. Sekarang, Combiphar berkomitmen untuk memelopori gaya hidup sehat di Indonesia. Mereka tak hanya menghasilkan produk-produk preventif, tetapi juga mengadakan berbagai sesi edukasi mengajarkan gaya hidup sehat untuk masyarakat luas.

Kami disambut Kak Richelle, sebagai Head, Corporate Communication & Community Development di PT. Combiphar. Bersama Kak Richelle kami memulai sesi perkenalan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, belajar tentang peraturan-peraturan selama di pabrik, dan menyimak video klip lagu serta company profile dari Combiphar. Anak-anak menyimak dengan antusias.

Setelah dengan Kak Richelle, kami disambut oleh Pak Michael Wanandi, sebagai Presiden Direktur PT Combiphar. Pak Michael menjelaskan tentang gaya hidup sehat ke para ASM. Menurutnya banyak penyakit di Indonesia saat ini yang berkaitan dengan gaya hidup yang tidak sehat seperti stroke, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru. Pak Michael pun bertanya kepada para ASM, kira-kira gaya hidup yang buruk itu seperti apa ya?

“Nggak rajin berolahraga!”, jawab Ijong, ASM asal Lebak.

“Makan tidak sehat!”, jawab Iyos, ASM asal Karawang.

Pak Michael setuju dengan jawaban Ijong dan Iyos. Beliau pun menambahkan tiga hal yang perlu diingat untuk gaya hidup sehat: nutrisi, air putih, dan tidur. Bila kita bisa memenuhi tiga kebutuhan tersebut, maka kesehatan kita akan terjaga.

Lalu tibalah saatnya kami berkeliling pabrik Combiphar. Kami dibagi empat kelompok yang masing-masing dipimpin oleh karyawan PT Combiphar. Saya bergabung di kelompok yang dipandu oleh Kak Nani.

Pertama-tama kami mengunjungi bagian produksi. Sebelumnya, kami diajak untuk memakai baju khusus bila ingin masuk ke pabrik bagian produksi. Baju tersebut adalah baju satu stel berwarna putih yang tertutup dari kaki sampai tangan. Kami juga harus memakai topi khusus untuk menutup kepala, rambut dan leher serta masker untuk menutup hidung dan mulut. Selain itu, kami juga harus memakai sepatu khusus untuk memasuki pabrik. Semua ini harus dipakai untuk mencegah kontaminasi udara, debu, maupun kuman dari luar agar obat yang diproduksi terjaga mutu dan kebersihannya.

kombi 1

Kami melihat bagian produksi dimana bahan-bahan baku ditimbang dan dicatat. Lalu kami melihat tangki besar dimana bahan-bahan tersebut dicampur dan dimasak. Kami melihat dua jenis produksi: yang pertama adalah produksi obat OBH Combi, obat batuk populer yang mempunyai tingkat produksi yang paling tinggi di perusahaan ini. Kedua adalah obat-obatan ethical, yaitu obat-obat yang hanya dipasarkan secara terbatas, misalnya dengan resep-resep dokter. Walaupun kami hanya bisa melihat tangki-tangki tersebut dari jendela di koridor, anak-anak tetap antusias bertanya kepada Kak Eric, pemandu kami.

“Kak, ramuan-ramuan ini kalo mau dimasak dan dipanasin itu gimana caranya?”, tanya Ijong

“Kami punya berbagai metode, misalnya dipanaskan pakai steam. Lalu kami juga punya berbagai cara untuk mengontrol tekanan udara di ruangan dan di tangki.”

“Itu apa kak?”, tanya Daniel, ASM asal Kapuas Hulu, sambil menunjuk alat pengukur berbentuk aneh di atas pintu.

“Itu namanya barometer”, jawab Kak Eric, “Barometer fungsinya untuk mengukur tekanan udara di ruangan. Coba kamu buka pintunya, dek.”

Daniel pun membuka pintu dan seketika jarum barometer bergerak kearah kiri.

“Karena pintunya dibuka, maka tekanan udara di dalam ruangan berkurang. Nah, kami harus mengatur agar di ruangan tersebut terjaga tekanan udaranya. Tutup lagi pintunya, dek. Kita nggak mau ada banyak udara dari luar yang masuk ke dalam.”

Setelah mengunjungi bagian produksi, kami pun beranjak ke bagian packaging. Untuk memasuki bagian ini, kami juga harus memakai baju khusus. Baju ini mirip seperti baju di bagian produksi, tapi bedanya baju yang kami pakai sekarang berwarna kuning dan kami juga tidak harus memakai masker.

kombi 2

Di bagian packaging kami melihat para karyawan memasukan botol-botol OBH Combi yang sudah diisi ke dalam kotak kemasan. Kotak-kotak kemasan tersebut pun disusun kembali di kardus yang lebih besar.

“Nanti kardus-kardus ini disimpan di mana Bu?”, tanya Iyos.

“Ada tempat penyimpanan khusus di sini. Suhunya harus dijaga dibawah 30 derajat celcius”, jawab Ibu Anne, pemandu kami di bagian packaging.

Setelah puas di bagian packaging, kami pun mengunjungi laboratorium Research & Development. Berbeda dengan pakaian khusus yang kami harus pakai di bagian produksi dan packaging, disini kami hanya memakai jas lab dan sepatu khusus.

“Perkenalkan, saya Dokter Rosmiati”, sahut Iyos setelah mencoba jas lab putihnya.

Di Research & Development, para karyawan bereksperimen dengan varian – varian obat dan mencoba membuat obat – obat baru dalam skala kecil. Mereka menguji kelayakan obat-obat ini dengan mengamati kekentalan, aroma, warna bahkan merasakan sendiri obat-obat baru ini. Mereka membuat obat-obat baru berdasarkan minat dan kebutuhan di pasar.

Setelah itu kami mengunjungi bagian Quality Control. Disini para karyawan menguji kelayakan bahan baku, ramuan, hingga obat-obatan yang diproduksi dan memastikan bahwa mereka hanya mengeluarkan produk-produk dengan standar tertinggi. Untuk memastikan bahwa obat yang diproduksi sesuai standar, mereka menggunakan mesin-mesin canggih untuk menganalisa produk mereka. Salah satunya adalah High Performance Liquid Chromatography, atau HPLC.

HPLC adalah suatu mesin yang dapat menganalisa konten-konten bahan kimia yang terdapat di suatu cairan. HPLC terdiri dari dua fase: mobile phase atau fase gerak, dan stationary phase atau fase diam. Ibaratnya, fase gerak berfungsi sebagai aliran sungai yang mengantar cairan yang mau dianalisa diantara fase diam yang ibaratnya seperti tanah atau kerikil di dasar sungai. Kandungan-kandungan yang terdapat di cairan yang dianalisa pun terpisah sendiri-sendiri diantara fase diam karena mereka mempunyai sifat kimia yang berbeda-beda. Dari situlah para karyawan Quality Control bisa mengukur konten bahan kimia yang terkandung dalam obat-obatnya dan memutuskan apakah obat yang diproduksi sudah sesuai standar.

Setelah lelah berkeliling, kami pun disambut kembali di auditorium dengan makanan-makanan yang lezat. Kami duduk mengobrol santai dengan Pak Michael, Kak Richelle, dan karyawan-karyawan lain di PT Combiphar. Setelah selesai makan dan sholat, acara pun dilanjutkan dengan presentasi oleh Dr Carlinda.

Dr Carlinda mengajarkan tentang gaya hidup sehat. Beliau mengingatkan anak-anak untuk menghindari bahaya rokok, olahraga yang cukup, memilih makanan sehat, dan meminum air putih yang cukup. Lalu Dr Carlinda mengajak Siska, ASM asal Yogyakarta, dan Ridho, ASM asal Rote, untuk memperagakan cara cuci tangan yang benar di depan teman-teman yang lain.

Lalu presentasi dilanjutkan oleh Kak Desy yang menjelaskan tentang obat batuk OBH Combi. Ternyata OBH Combi mengandung bahan-bahan alami termasuk Succus Liquiritiae atau akar manis. Terakhir, presentasi ditutup oleh Bapak Delano yang menceritakan tentang pabrik Combiphar dan memperkenalkan pekerja-pekerja di pabrik ini.

Di akhir acara kami semua pun mendapat goodybag dari PT Combiphar. Anak-anak senang sekali belajar tentang gaya hidup sehat dan mengunjungi pabrik obat-obatan. Besok adalah hari yang dinanti-nanti karena kami akan berkunjung ke Monas dan Museum Naskah Proklamasi. Simak cerita Anak SabangMerauke selanjutnya ya!

Oleh : Diandra

Cerdas Berwawasan: Mengetahui Lebih Banyak untuk Mencintai lebih banyak

Masih dalam suasana Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kegiatan ASM hari ini, Selasa 18 Agustus 2015 akan meningkatkan kecintaan terhadap bangsa Indonesia melalui tema ‘Cerdas Berwawasan’. Sebagai putra putri bangsa, ASM tidak hanya harus cerdas dan berani, tetapi juga harus dapat mencintai bangsa sebagaimana mereka mencintai diri sendiri, bukan?

Berlokasi di Podomoro University, kali ini ASM mendapatkan materi  ‘Sex Education & Kesehatan Remaja’ oleh World Health Organization (WHO) Indonesia dilanjutkan dengan materi ‘Table Manner & Kuliner Nusantara’ oleh Hotel Business Program, Podomoro University.

Sebagai bentuk cinta akan diri, sepatutnya kita mengetahui apa yang dapat membahayakan serta pencegahan agar hal tersebut tidak terjadi. Kasus yang marak terjadi dan sebagian besar korbannya adalah anak dibawah umur akhir-akhir ini adalah kasus pelecehan seksual. Maka pendidikan mengenai pelecehan seksual, seks serta kesehatan remaja bukan lagi menjadi hal tabu untuk diajarkan kepada adik-adik kita.

Ibu Priska dan Ibu Tasia dari WHO Indonesia membawakan materi ini dengan sangat menarik, sehingga ASM tidak malu atau takut mengutarakan pendapat mereka. Sesi pertama adalah mengenai kekerasan verbal, dilanjutkan dengan sesi kedua mengenai pelecehan seksual. Dalam memulai setiap sesi, Ibu Priska dan Ibu Tasia meminta ASM yang dibantu oleh KSM untuk menuliskan apa yang mereka ketahui tentang kekerasan verbal maupun pelecehan seksual.

Memanggil teman bencong!” “Ngata-ngatain teman!” Dengan semangat mereka mengutarakan pengetahuan mereka, pintar! Nah benar, ternyata memanggil teman dengan panggilan yang tidak baik, walaupun teman dekat, termasuk ke kekerasan verbal loh! Pemberian pengetahuan tentang apa yang baik, benar dan seharusnya dilakukan mengakhiri sesi pertama materi ini.

Menyingkap rok perempuan!” “Memukul pantat!” Ujar ASM ketika ditanya apa yang mereka ketahui tentang pelecehan seksual. Walau hari semakin siang, ASM tetap semangat untuk mengikuti sesi kedua. Dalam sesi ini tidak hanya diterangkan macam pelecehan seksual, ASM juga diberikan pengetahuan mengenai bagaimana mencegah sampai melakukan perlawanan ketika hal tersebut terjadi. Pelecehan seksual tidak hanya bisa dilakukan oleh orang yang tidak dikenal, orang yang dekat dengan kita juga berpeluang kalau kita tidak berhati-hati.

Pesan penutup materi dari Ibu Priska, “Satu hal yang paling penting. Kalian harus berani berkata TIDAK! Ikuti kata hati kalian, kalau kalian merasa hal tersebut tidak baik, jangan dilakukan.” Terimakasih WHO  Indonesia, pengetahuan yang sangat penting sekaligus bermanfaat. Dengan dapat mencintai diri sendiri, diharapkan ASM dapat mebawa teman-temannya untuk ikut mencintai diri mereka, sehingga Indonesia  nantinya akan dipimpin oleh orang-orang yang mencintai sesama.

Sama halnya dengan toleransi yang harus dialami dan dirasakan, rasa cinta tanah air juga harus dialami dan dirasakan. Kali ini ASM akan langsung mencoba membuat salah satu masakan khas nusantara yaitu tumpeng.

Dari sabaaang.. Sampai Meraukeee.. Semuaaa ke HBP.. Wuusss!!” Tepuk HBP, tepuk yang diajarkan tim Hotel Business Program (HBP) dari Podomoro University untuk menyambut tim Sabang Merauke, seru!

Masuk ke dalam ruangan, ASM disuguhi deretan kue coklat sepanjang meja, waaah! Belum habis kekaguman, ASM masuk ke dalam ruangan berkonsep restoran kelas atas! Disetiap bangku juga telah ada topi koki beserta apron bertuliskan Sabang Merauke untuk ASM memasak nantinya, waaah ASM semakin bersemangat mengikuti sesi ini!

Materi pertama diberikan oleh Dr. Santi mengenai pariwisata, beliau adalah salah satu dosen di HBP. Tidak hanya keindahan alam, berbagai jenis tumbuhan, hewan, sampai makanan yang berbeda di setiap daerah menunjukkan bertapa kayanya indonesia.

Komodo ada di NTT!” ujar Ridho, ASM asal NTT dengan bangganya, dilanjutkan dengan ASM lain yang ikut menyebutkan ciri khas daerahnya dengan bangga. Sama bangganya dengan kesadaran mereka bahwa mereka adalah putra putri Inonesia.

Materi kedua diberikan oleh Ibu Edvi mengenai kuliner nusantara. Beliau menampilkan video mengenai 30 Ikon Kuliner Nusantara. Ternyata Dr. Santi adalah salah satu pencetusnya loh! Setiap makanan daerah yang muncul dalam video meningkatkan semangat ASM, “Waah!” “Aku pernah makan itu!” “Itu dari daerah aku!” seru mereka dengan lantang dan semangat.

Kemudian Ibu Edvi menjelaskan filosofi yang ada dalam tumpeng. Nasi kuning berbentuk kerucut yang biasa disajikan dengan berbagai lauk dan hampir selalu ada di setiap acara syukuran di Indonesia tersebut ternyata sarat akan makna. Lauk pauk yang ada harus terdiri dari hasil alam yang keluar dari atas tanah, dalam tanah, protein hewani dan protein nabati. Kaya akan hasil alam, seperti Indonesia. Setelah tahu filosofinya, ASM akan langsung mempraktikkan cara menyusun tumpeng. ASM memakai topi koki dan apron yang telah disiapkan, chef cilik siap beraksi!

Masuk kedalam dapur, 15 ASM bak berada di dapur Master Chef. Dipimpin oleh Chef Anton, ASM menyusun tumpeng dengan semangat. Berlari mengambil peralatan dapur, mencetak nasi kuning, mencuci sayuran, sampai menyusun lauk pada nasi tumpeng terasa sangat menyenangkan.

koki

Saat yang paling ditunggu-tunggu, saatnya makan! Tidak dapat langsung makan, ASM harus makan dengan tata cara yang benar. Menggunakan peralatan makan dari yang disusun paling luar, tangan tidak boleh menyentuh meja dan kain makan diletakkan dipangkuan bukan diatas meja adalah sedikit cuplikan pengetahuan yang didapatkan ASM. Kini ASM sudah siap ketika diundang pejabat untuk makan. Atau ketika ASM menjadi pejabat kelak?

Empat hal yang penting dalam pariwisata yaitu; budaya, alam, manusia dan kuliner. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencintai bangsa Indonesia, kali ini ASM berkesempatan belajar mencintai Indonesia melalui pariwisata.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya. Dilimpahi dengan hijaunya hutan dan birunya laut sebagai tanda kehidupan. Untuk selanjutnya bansa ini ada ditangan kalian, kembangkan dan buat menjadi negara yang besar”, pesan dari  Prof. Dr. Muljono, Wakil Rektor Podomoro University.

Kalimat tersebut menutup kegiatan Sabang Merauke hari ini. Begitu banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang ASM dapatkan hari ini. Belajar untuk mencintai diri untuk mencintai bangsa, mengetahui lebih banyak untuk mencintai lebih banyak.

Oleh : Anisa

Merayakan hari kemerdekaan ala SabangMerauke

Tujuh belas agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita…..

Selamat merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-tujuh puluh, Indonesia!

Pada hari dimana merah putih dijunjung dan diarak di banyak sekali tempat, keluarga besar SabangMerauke juga turut merayakannya di Taman Mini Indonesia Indah anjungan Sulawesi Tengah. Acara dimulai pukul 9 dan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seluruh manusia di ruangan itu menyanyikannya dengan syahdu.

17

Setelah itu kami bermain berdasarkan stiker yang dibagikan saat registrasi awal. Ada kelompok berwana jingga, berwarna hijau, dan berwarna kuning. Permainan pertama adalah permainan dimana seseorang dengan stiker berwarna hijau dan kuning menjadi pohon sedangkan mereka dengan stiker jingga menjadi rubah. Ketika kata pemburu diteriakkan, rubah harus berlari mencari pohon. Kala kebakaran disebutkan, pohon harus bergerak mencari rubah dan ketika gempa bumi dikatakan, setiap orang harus mencari dan membentuk satu kesatuan yang baru lagi. Seru sekali! Setiap orang berlarian kesana kemari ketika salah satu dari kata ‘ajaib’ tersebut digemakan.

Tak lengkap tanpa mengenal satu sama lain, kami pun berkenalan dengan anggota kelompok kami masing-masing dengan menyebutkan siapa pahlawan versi kami. Ada yang menyebutkan Marie Curie, R. A Kartini, Iwan Fals, bahkan Inul Daratista. Ternyata pahlawan bukan perihal siapa yang namanya dikenang sebagai nama jalan, tetapi adalah mereka yang punya arti tersendiri di dalam hidup setiap orang.

Seusai berkenalan, kami meneriakkan yel-yel kami masing-masing dan bermain sarung berantai. Dalam permainan ini seluruh anggota kelompok meriah sekali karena khawatir pemburu ditangkap polisi. Permainan sarung berantai ala SabangMerauke ini menggunakan dua sarung, dimana sarung pertama berwarna coklat yang mencirikan penjahat harus dioper ke teman sebelahnya dengan dua kali memasukkan badan, sedangkan sarung biru yang berarti polisi hanya satu kali dimasukkan ke seluruh badan lantas boleh dioper. Dan akhirnya polisi menangkap penjahatnya! Semua orang bertepuk tangan dengan mengatakan ‘yaaaaaaaaaaaaaaaah

Panas bermain sarung berantai, kami istirahat sebentar kemudian melanjutkan bermain mengumpulkan barang. Panitia memberikan kami daftar barang yang harus dikumpulkan tanpa harus mengambil ke tas. Ada sampah plastik, stnk, sisir, struk, dan lain sebagainya. Setiap kelompok berlomba mengumpulkan yang terbanyak, dan pemenangnya jatuh kepada kelompok hijau.

Human machine adalah apa yang kami mainkan selanjutnya. Dalam permainan ini, setiap kelompok harus memperagakan sebuah mesin dan kelompok lain harus menebaknya. Lucu, karena ada kelompok yang sudah heboh memperagakan sebuah mesin namun kelompok lain sukar sekali menjawabnya, dan ternyata jawabannya adalah kitchen set. Fiuh.

Setelah lelah bergerak kesana-kemari, selanjutnya kami bermain kuis Ayo Kenali Nusantara. Dalam kuis ini disebutkan banyak pertanyaan mengenali Indonesia. Ada budaya, sejarah, dan tokoh-tokoh perjuangan Indonesia. Menyenangkan sekali, karena banyak ASM yang aktif dalam menjawab pertanyaan di kuis Ayo Kenali Nusantara ini.

Selesai bermain kuis, kami mendengarkan beberapa ASM menyanyikan lagu daerahnya, seperti Louisa, Daniel, dan Irga. Mereka menyanyikannya dengan sangat merdu sehingga membuat pandangan kami tersapu. Tak hanya itu, ada ASM lain, yaitu Yoga dan Aan yang berasal dari Sulawesi Tengah berkesempatan menyampaikan budaya khas daerahnya karena kebetulan sekali hari itu kami melakukan kegiatan di anjungan Sulawesi Tengah. KSM yang juga asal Sulawesi Tengah, Kak Sahidin, sempat bercerita di depan teman-teman bahwa dulu, ada sebuah pulau di Sulawesi yang belum bernama dan di pulau itu sempat dikibarkan bendera negara tetangga.

“Jera melihat hal itu, saya dan teman-teman memberanikan diri untuk menurunkan negara tersebut dan menggantinya dengan bendera Indonesia”, katanya. Seluruh orang memberikan tepuk tangan untuk aksi yang mengharukan itu.

Seakan melengkapi hari kemerdekaan, ASM berkumpul dengan KSM dan FSM nya masing-masing,  relawan pun demikian. Setelah itu setiap ASM memperkenalkan KSM dan FSM nya kepada setiap orang yang ada di ruangan tersebut. Rasa kekeluargaan dan kebersamaan antar elemen sungguh terasa siang itu. Tatkala merasa sudah cukup mengenal antar keluarga, kami semua makan siang dan acara merayakan kemerdekaan bersama keluarga besar SabangMerauke selesai sudah.

Hari itu semuanya terlihat sangat bahagia dengan balutan kain merah putih yang menempel di setiap tubuh anggota keluarga. Sepertinya semangat kemerdekaan hadir di setiap nadi semua orang. Selamat merdeka!

Oleh : Chenia

Mimpiku Setinggi Awan: Hari Teknologi dan Cita-cita di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, Curug

Hari ini para Anak SabangMerauke berkumpul pagi sekali di Taman Jenggala. Walaupun kemarin berkegiatan sampai malam, dan hari ini mereka harus berkumpul sangat pagi, keceriaan tidak hilang dari wajah anak-anak. Hari ini kami akan bertualang jauh! Kami akan belajar tentang teknologi dan cita-cita dengan mengunjungi Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug.

Setelah menempuh 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia. STPI adalah salah satu perguruan tinggi kedinasan yang ada dibawah Kementerian Perhubungan Indonesia. Kampusnya sangat luas karena mencakupi berbagai gedung perkuliahan, hanggar dan runway pesawat, dan area-area lain yang mendukung pendidikan penerbangan.

Kami disambut oleh Bapak Ahmad Mubarok, Mbak Ajeng, dan Mas Benny yang menjelaskan tentang suasana perkuliahan di Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan. Mbak Ajeng menjelaskan bahwa ada 4 jurusan di sekolah ini, yaitu penerbang, teknik penerbangan, keselamatan penerbangan, dan manajemen penerbangan.

“Kalau mau jadi pramugari belajar jurusan apa, Pak?” tanya Nisa, ASM asal Karo, Sumatra Utara.

“Kalau mau jadi pramugari tidak belajar disini karena mereka tidak  perlu belajar sistem penerbangan. Walaupun pramugari sekolahnya beda, tapi mereka masih sangat penting”, jawab Pak Ahmad Mubarok.

Setelah itu, kami diajak jalan-jalan melihat hangar dan apron pesawat-pesawat yang dipakai untuk belajar penerbangan. Anak-anak belajar bahwa hanggar adalah tempat pesawat disimpan, dan apron adalah lapangan dimana pesawat bisa ‘jalan-jalan’, sementara landasan terbang pesawat disebut runway.

Di hanggar kami disambut Kak Kusna dan Kak Lorenzo, taruna-taruna yang sedang belajar menjadi penerbang di STPI. Kak Kusna dan Kak Lorenzo menjelaskan pengalamannya selama bersekolah di STPI.

Tek

“Berapa lama Kakak belajar menerbangakan pesawat?” tanya Ansyori, ASM asal Bengkulu.

“Sekitar 2 tahun. Tapi sebelumnya kita belajar ground class dulu, Ground class artinya kita belajar di kelas biasa seperti kampus-kampus lain. Baru nanti kita belajar untuk terbang.”

“Kak, kalau cuaca buruk gimana? Boleh terbang nggak?” tanya Ijong, ASM asal Lebak.

“Nggak boleh, karena cuaca buruk bisa mengganggu jarak pandang dan kestabilan pesawat. Kalau mau terbang, kita harus lihat bendera dulu, lihat nggak bendera itu? Warnanya apa?” tanya Kak Kusna sambil menunjuk bendera di ujung lapangan.

“Putih, Kak.”

“Kalau putih, berarti cuaca sedang baik. Kalau hitam berarti cuaca sedang buruk, dan pesawat nggak boleh terbang. Tapi jangan salah lo, bisa saja cuacanya kelihatan buruk dan berawan dari bawah, tapi sebenarnya di atas cuacanya cerah. Jadi bendera putih tetap dikibarkan dan pesawat boleh terbang.”

“Terus Kak, kalau ada kecelakaan gimana? Kalau pesawat diatas tiba-tiba kebakaran?” tanya Niko, ASM asal Kapuas Hulu.

“Setiap kami mau menerbangkan pesawat pasti ada Standard Operational Procedure, atau SOP nya. Dalam proses itu, kita harus memeriksa seluruh pesawat, cuaca dan lain lain sehingga mencegah terjadinya kecelakaan.”

Setelah sesi tanya-jawab yang seru, anak-anak pun berkesempatan melihat-lihat isi pesawat yang sedang parkir di hanggar. Mereka masuk ke dalam bergantian, memainkan stir di kabin pilot, dan melambai ke kakak-kakak di luar yang memotret kelakuan mereka.

tek2

Setelah itu kami di ajak jalan-jalan melihat tempat taruna-taruna latihan keselamatan dan penanggulangan kecelakaan. Rombongan dibagi dua kelompok, dan saya mengikuti kelompok yang mengunjungi smokehouse.

Smokehouse adalah sebuah bangunan yang terbuat dari baja untuk simulasi kebakaran gedung. Untuk latihan, biasanya bangunan ini diisi asap dan para taruna harus latihan untuk menyelamatkan korban yang terperangkap di dalam.

“Bajunya pemadam itu berat dan harus membawa tabung oksigen 3 kg untuk diri sendiri, belum lagi harus membawa korbannya juga” jelas kakak taruna, “Tapi kami punya trik untuk membawa korban mau lihat nggak? Siapa mau diangkat?”

“Saya kak!”, tunjuk Ijong

Kakak taruna pun dengan sigap mengangakat Ijong dari bawah sehingga seluruh berat Ijong ada di punggung kakak taruna.

Setelah melihat smokehouse, kami pun melihat pesawat besar berwarna hitam, yang merupakan replika Boeing 737. Pesawat tersebut digunakan untuk latihan pemadaman kebakaran pesawat.

“Kami punya waktu dua menit dari masuknya pengumuman kecelakaan untuk bersiap memadamkan api. Pada menit ketiga, kami sudah harus menyemprot foam.”

Para ASM pun belajar tentang berbagai macam hidran, dan melihat-lihat mobil pemadam kebakaran. Pak Ahmad Mubarok menjelaskan bahwa mobil pemadam kebakaran ini harus siap sedia di sekolah ini dan tidak boleh pergi, walaupun ada kebakaran di daerah yang dekat. Untuk memenuhi standar keamanan di bandara, memang harus ada mobil pemadam yang siap sedia tiap waktu. Bahkan, jelas Pak Ahmad, salah satu standar terpenting yang dipakai untuk menilai sebuah bandara adalah dari tingkat keamanan dan kesiapan kecelakaannya. Misalnya, Bandara Soekarno-Hatta yang mempunyai nilai 10 mempunyai standar keselamatan yang sangat tinggi.

Hari ini pun diakhiri dengan sesi refleksi. Saya ingin agar anak-anak bisa melihat beragam profesi yang ada di dunia penerbangan.

“Bisa jadi pilot!”

“Air traffic control!”

“Pramugari!”

“Teknisi!”

“Bagus,” jawab saya, “Kalau dunia pendidikan ada apa saja?”

“Guru!”, jawab anak-anak.

“Ada apa lagi?”

“Dosen!”

“Kepala Sekolah!”

“Menteri Pendidikan!”

Saya pun menjelaskan, karena sekarang anak-anak sudah belajar berbagai macam profesi, maka cita-cita mereka haruslah terbuka. Tidak mulu hanya dokter, guru atau insinyur, tapi harus mulai spesifik.

“Saya mau jadi ilmuwan!” seru Yoga, ASM dari Banggai, Sulawesi Tenggara.

“Ilmuwan apa, Yoga?”

“Ilmuwan sains!”

“Nah, sains kan banyak sekali. Ada biologi, kimia, fisika, dan lain-lain.Yoga mau jadi ilmuwan yang mana?”

“Euh… Astronomi! Saya mau jadi astronom kak!”

Setelah hari yang panjang, kami pun pulang kembali ke Jakarta. Kami pulang lebih siang dari biasanya, sengaja agar anak-anak mendapat waktu yang cukup untuk istirahat dan menghabiskan waktu bersama keluarga angkat mereka. Selamat menikmati akhir pekan anak-anak, sampai jumpa di Hari Kemerdekaan!

Oleh : Diandra

Ragam Budaya

Ragam budaya adalah tema pada hari ini, 13 Agustus 2015. Perjalanan pertama kami dimulai menuju Vihara Dharma Jaya Toasebio yang berada di daerah Jakarta Pusat. Bangunan bernuansa kemerahan menyambut kami pagi ini. Dupa, lilin, dan tempelan dengan bahasa mandarin seakan melengkapi kunjungan kami ke klenteng ini.

Kami dipandu oleh Bapak Tawi, salah satu pengurus Toasebio. Toa se artinya penjabat besar atau duta besar. Bio berarti klenteng. Jadi, Toasebio adalah kelenteng duta besar. Pak Tawi mengatakan bahwa klenteng ini sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Toasebio ini biasa dipakai beribadah oleh orang-orang beragama Konghucu, Buddha, maupun Tao.

Bapak Tawi mengajak kami berkeliling Toasebio.

“Yang di tengah ini adalah tuan rumah, Ia adalah Cheng Goan Cheng Kun, yaitu titisan dari Dewa”, sahutnya sambil menunjukkan kepada ASM bahwa apa yang terdapat di tengah-tengah klenteng ini adalah Ia yang dikenal sebagai tuan rumah. Di belakang klenteng ini juga terdapat patung Dewa Obat yang besar, dipercaya sebagai dewa penyembuh segala macam penyakit.

Klenteng

Puas mengelilingi Vihara Dharma Jaya Toasebio, kami pun melakukan foto dan beralih ke Gereja Katolik Santa Maria yang berada tidak jauh dari Toasebio. Bangunan gereja ini sungguh sederhana; seperti rumah yang disisipi nuansa tionghoa. Penjelasan dari Bapak Idris, selaku penjaga gereja pun tidak banyak berbeda dari apa yang dijelaskan oleh Ibu Lili di Katedral kemarin, mengingat keduanya merupakan gereja Katolik. Di belakang halaman gereja ini, kami menemukan sebuah Pohon Ara yang menurut Bapak Idris benihnya dibawa langsung dari Israel. Tak hanya melihat, kami juga diperbolehkan mencicipi buah ara ini. Rasanya manis dan sedikit asam, hampir menyerupai jambu.

Selesai melahap ara, mengunjungi Toasebio dan Gereja Santa Maria, kami pun meluncur ke museum seni rupa dan keramik yang terletak di Kota Tua. Di museum ini kami dipandu oleh Bapak Uli, melihat-lihat berbagai macam keramik dan seni rupa yang terdapat di museum ini. Kemudian ia mengajak kami belajar mengenai keramik dan memberi kami kesempatan untuk membuat berbagai macam bentuk dari tanah liat. ASM dan KSM sungguh semangat sekali. Irga, ASM dari Halmahera Selatan bahkan membuat tanah liat bertuliskan “IBU”.

Tanah liat

Melanjutkan kegiatan hari ini, sehabis mengotori tangan dengan tanah liat kami masuk dalam sesi keindonesiaan bersama Asep Kambali, seorang guru sejarah keliling yang juga sekaligus inisiator Komunitas Historia Indonesia.

“Siapa disini yang mengaku orang Indonesia”, tanyanya

Semua mengacungkan tangan.

“Namun siapa disini yang tau apa arti Indonesia?”, katanya lagi.

Semua diam.

“Indonesia itu negara”, jawab Aan, ASM asal Banggai. Semua orang tertawa.

“Indonesia itu kesatuan”, tambah Ipul, ASM asal Bima, Nusa Tenggara Barat.

“Yah, ternyata orang Indonesia bahkan tidak tahu apa itu Indonesia. Inilah mengapa kita harus mempelajari sejarah. Karena tak kenal maka tak sayang. Bagaimana mau mencintai Indonesia kalau tak mau mengenal Indonesia?”, jelas Kang Asep.

Dalam sesi ini Kang Asep Kambali menyatakan betapa pentingnya mempelajari sejarah Indonesia. Penting sekali untuk mempelajari sejarah agar kita bisa lebih baik dan lebih berani dari hari kemarin. ASM serius sekali memperhatikan pelajaran keindonesiaan yang disampaikan oleh Asep Kambali.

“Pernah mendengar kalimat ‘jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, maka hancurkan ingatan sejarah para pemudanya?’ saya berharap semoga adik-adik sekalian tidak akan lupa akan sejarah Indonesia dan senantiasa mau mempelajarinya”, tambahnya.

Sesi ini ditutup dengan pertanyaan “siapa yang di handphonenya menyimpan lagu Indonesia Raya?”

Dan hanya Aan yang mengacungkan tangan.

“Mencintai Indonesia bisa dimulai dari hal-hal yang kecil, dari menyimpan lagu kebangsaan di telepon genggam karena inilah yang bisa kita lakukan untuk memupuk keindonesiaan kita, salah satunya dengan menjaga simbol-simbol milik bangsa”, jelasnya.

ASM bertepuk tangan. Mereka senang bisa mengenal Indonesia dengan Kang Asep Kambali.

Asep

Setelah foto bersama ASM pun kembali melakukan refleksi atas apa yang dipelajari hari ini. Mereka mengatakan bahwa mempelajari sejarah dan mengenal Indonesia itu penting. Sepertinya salah satu nilai keindonesiaan yang merupakan tiga pilar dalam SabangMerauke berhasil disampaikan melalui kegiatan hari ini.

Seakan tak kenal lelah, kami sampai pada titik terakhir kegiatan hari ini; melakukan foto studio di Harmoni bersama kakak-kakak dari studio foto kepresidenan yang sering memfoto presiden Indonesia. Masuk ke studio ini, kami melihat foto Ibu Megawati yang sedang tersenyum. Sudah pasti kakak-kakak tersebutlah yang memfoto Ibu Megawati.

ASM begitu gembira ketika mengetahui hari ini adalah hari mereka melakukan sesi pemotretan. Setelah berganti baju, ASM, KSM, dan bahkan panitia ikut melakukan foto bersama. Begitu banyak tawa dan senyum yang terulum di dalam studio ini. Semua orang bahagia, kami menampilkan deretan gigi terbaik yang kami punya.

Foto bersama

Semoga senyum ini terus kami bawa hingga sehari, sebulan, setahun, dan selama kami hidup.

Salam NKRI!

Oleh : Chenia